Entah…

Malam itu..

Entah kau dimana..

Entah berapa sloki yang kau tenggak..

Entah minuman apa…

Entah dengan kadar berapa…

Kau berjingkrak menumpahkan rasa penyesalan…

Penyesalan yang kau buat sendiri..

Seoalah kau ingin lupakan…

Dasar muna…

Dan malam itu..

Entah kau pulang jam berapa..

Entah kau pulang dengan siapa..

Entah kau pulang kemana..

Yang jelas dinginnya kabut malam dan hangatnya rayuan setan minuman akan membuatmu terlena dan ingin bergegas menuju ranjang…

Entah dir ruangan seperti apa..

Entah dengan anak jantan mana..

Entah kau sadar atau tidak..

Yang mungkin kau nikmati pergumulanmu dengan setan..

kamar kost, 14/02/2013

Advertisements

kau tak boleh tahu

Kini aku terkapar.

Tak berdaya diatas kasur usang.

Dan kau bun, kau pun tak tahu anakmu lemah.

Tak ada yang kompresi anakmu.

Tak seorang mengunjungi anakmu.

Kini virus telah meradang pada anakmu.

Sedikit suaramu mungkin bisa menyegarkan anakmu.

Kau tak boleh tahu anakmu begini payah bun.

Kau harus tahu yang baik-baik tentang anakmu.

 

kamar kost, 13/02/2013

Mereka yang Roso

Mereka punya otot. Topi sebagai pelindung panas. Sepatu boot  atau tanpa alas kaki. Menggunakan alat berat yang tak kecil resikonya. Bekerja lebih dari 8 jam sehari dengan tenaga yang luar biasa. Kuli bangunan istilah kasarnya. Banyak dari mereka berkorban nyawa demi profesi yang tak seberapa penghasilannya.

Image

Ganasnya panas matahari tak membuat mereka mengeluh seperti kebanyakan orang. Mereka hanya menyeka tetesan keringat dengan baju yang penuh debu. Sedikit waktu istirahat untuk berteduh dan bercanda sesama teman lapangan. Faktor ekonomi dan pendidikan mungkin mendominasi alasan mereka. Beberapa diantara mereka yang seyogyanya masih di bangku pendidikan harus menekuni profesi ini. Hidup nan keras menuntut mereka untuk menjadi laki-laki roso.

Image

Mereka yang lain duduk nyaman di dalam bangunan tinggi megah nan sejuk. Mereka yang roso duduk diatas batu dan pasir. Mereka yang lain tak pernah tahu bagaimana rasanya menjadi mereka yang roso. Mereka yang lain juga tak pernah sadar kontribusi mereka yang roso. Mereka yang lain tak bisa duduk nyaman tanpa mereka yang roso. Tapi mereka yang roso hanya bisa mendangak melihat mereka yang lain.

 

Tak Se-indah Liburanmu

Siapkan segelas minuman dan popcorn, dan nikmatilah tulisan membosankan ini.
 
Bulan suci ramadhan. Memang semua orang menyambut gembira datangnya bulan penuh berkah. Terlebih bagi anak-anak. Mereka gembira lantaran akan adanya baju baru, sepatu baru dan juga THR saat lebaran nanti. Tapi tidak untukku. Bukan karena apa-apa, tapi waktunya yang bertepatan dengan liburan membuat aku harus meninggalkan kota Jogja karena perintah orang tua. Sangat berat rasanya meninggalkan Jogja yang istimewa.
 
Hari itu datang juga. Terbayang olehku kota Semarang yang panas dan padat. Haaahh… baru memikirkannya saja sudah pening kepala ini. Ingin rasanya membatalkan tiket travel yang sudah dipesan. Tapi tak mungkin, orang tua sudah menanti dirumah. Sepintas ada sedikit penyesalan terburu-buru mengikuti KKN angkatan kemarin. “Harusnya aku ikut KKN angkatan ini saja agar ada alasan untuk tidak meninggalkan Jogja secepat itu” batinku. Tak apalah, toh nasi sudah menjadi bubur. Mau tak mau hari itu juga aku harus berangkat ke kota Semarang. Semoga buburnya bisa ku tambahkan kuah opor, kacang, suiran ayam dan sedikit kerupuk
 
14.00, aku sudah berada diatas travel langganan. Malasnya bukan kepalang, Jogja yang memberiku banyak pelajaran dan kenangan akan ku tinggalkan untuk sementara waktu. Bakal sangat bosan duduk ber jam-jam di jok mobil bersama orang yang tidak dikenal. Sukur-sukur kalau duduk dengan wanita cantik. Apa daya, penumpangnya veteran bau tanah. Semakin membosankan perjalananku. Tiga jam kedepan akan menjadi sangat lama diantara manusia-manusia ini.
 
Seminggu sebelum keberangkatan aku pergi bersama dua kawanku. Kawan seperjuangan yang bekerja untuk keabadian. Tujuannya adalah toko buku toga mas. Memang kami sudah merencanakan sebelumnya. Harus ada kegiatan ketika liburan nanti. Jangan sampai otak ini istirahat total selama liburan.  Atas saran teman akhirnya aku membeli sebuah buku berjudul Conspirata. Novel yang bercerita tentang bagaimana situasi politik di Romawi pada zaman dulu. Dua temanku yang lain membeli beberapa buku. Tak tanggung-tanggung, Maryono Ozawa membeli enam buku sekaligus. Mungkin ia ingin membawakan hadiah untuk istrinya. Maklum pasangan muda, hasrat masih menggelora.
 
Travel yang ku tumpangi melaju dengan kencang, tanpa standing dan terbang. Sedikit demi sedikit beranjak meninggalkan kota Jogja. Sebentar lagi kota ini akan lenyap dari pandangan mata. “Selamat Datang di Jawa Tengah,” melihat papan baliho itu seakan berjalan menuju neraka. Entah kenapa Jogja selalu lebih nyaman daripada dimanapun aku pernah tinggal. Namanya juga Jogja Istimewa. Sementara mobil melaju menuju neraka dunia ku putar lagu di playlist dan terlelap.
 
Semarang 17.30, aku turun dari travel. Tercium aroma neraka yang jahat. Ku langkahkan kaki menuju rumah. Ada rasa bahagia karena akan bertemu keluarga. Semakin lama langkah ini semakin berat. Memang tidak jauh dari rumah, tapi jalannya menanjak dan bawaan berat. Belum lagi hawa neraka membuat pakaian ini basah.
 
Sampai di rumah aku tak bisa tidur lagi. Hari itu hingga larut malam hanya memikirkan apa yang akan dikerjakan dalam satu bulan kedepan. Berharap bekal satu buku bisa menyibukkan liburanku.
 
Esok harinya dimulai dengan membuka lembar pertama Conspirata. Lembar kedua, ketiga, hingga lembar kesepuluh masih seru dan masih bisa  diimajinasikan. Berharap tidak ada lagi kata bosan. Namun lembar selanjutnya kabur, bak berjalan di tengah badai pasir. Ada nama-nama Romawi yang selalu berakhiran us. Julius, Mathius, Anus dan kawan-kawannya. Ditambah dengan rasa penasaran dari cerita buku ke-empat tetralogi bumi manusia yang belum rampung aku baca. Semangat membaca seketika itu lenyap. Si bosan datang lagi. Dan benar, lebih membosankan dari yang dibayangkan.
 
Cuaca di Semarang memang tidak pernah mendukung. Entah berapa suhu udara saat itu. Mungkin 40°C. Seakan matahari memusatkan titik panasnya pada atap rumah sewaan ini. Tak ada pendingin udara, hanya kipas tua yang menghembuskan angin panas. Hari berikutnya sama saja. Bahkan terasa lebih panas dari hari sebelumnya dan lebih membosankan dari sebelumnya. Semakin hari semakin panas, semakin hari semakin bosan, bosan dan bosan.
 
Seminggu berlalu serasa sewindu. Lamanya minta ampun. Penderitaan belum berakhir. Masih ada beberapa minggu lagi. Tak ada yang istimewa. Tak ada yang bisa di ceritakan karena memang tak ada yang dikerjakan. Wajar tulisan ini membosankan, karena memang liburanku tidak mengesankan. Hanya merangsang kawan-kawan agar semangat bekerja untuk keabadian. Jogja menanti dengan sejuta tantangannya. Ctrl+S dan bersegera memejamkan mata. Berharap ketika terjaga aku sudah berada di kamar kost.

Belum Ada judul

“kau tau, mengapa aku menyayangimu lebih dari yang lain nak?”. “karena kau menulis nak”. Itulah kata-kata yang pernah keluar dari mulut Nyai Ontosoroh kepada Minke dalam novel karangan Pramoedya Ananta Toer. Yah, Aku pun ingin seperti Minke. Disayangi dan dikenang karena menulis.
Tapi malam ini tak ada cukup ide untuk ku menulis. Ditambah dengan pikiranku yang terbang kemana-mana tak tahu hinggap dimana.Handphone tak juga berdering. Berharap pujaan hati memberi kabar lewat pesan singkat. Entah kemana dia.
Keyboard laptopku sudah tak sabar menunggu ketikan dari jari-jari yang lelet ini. Winamp juga terasa mulai enggan memutarkan lagu untuk menemaniku yang sejak tadi hanya duduk memandangi microsoft wordyang masih polos. Tak terhitung sudah berapa kali lagu favoritku berputar berulang-ulang.
Berfikir dan terus berfikir. Kupandangi langit-langit kamarku, barangkali saja ada ide yang tersangkut diatas. Lama termenung memandangi langit-langit tapi ide itu belum juga muncul.
Sesaat kemudian terdengar lantunan lirik dari sebuah lagu “i don’t know what you do” .Nada pesan singkat Handphone ku berdering. Tak sia-sia aku charge, akhirnya berbunyi juga. Dengan segera aku melompat ke atas tempat tidur, mencari benda sialan yang dari tadi baru bersuara itu. Ku buka pesan masuk. Yes.. yes.. Akhirnya si primadona memberi kabar juga.
Girang melihat pesan dari primadona ku, otakku mulai berfikir agak cepat. Jari-jari ini mulai mengetik. Tak lupa ku sulut sebatang rokok dengan korek zippo agar mulut ini tidak terasa asem. Kata-kata yang ku ketik tersusun juga menjadi sebuah kalimat pembuka tulisan.
Terinpirasi oleh kesepianku beberapa hari ini dengan perasaan sedih dan rindu ku tulis tentang diriku yang sedang kesepian karena di tinggal pulang kampung oleh makhluk Tuhan yang sangat ku cintai. Yah, si primadona yang baru saja mengirimkan pesan singkat.
Sebenarnya sebelum menulis aku diajak untuk makan malam bersama teman-teman kost. “Kurang ajar”, dalam hati aku menggerutu. Mengajak makan malam orang yang sedang tidak bersama pasangannya. Sedangkan mereka semua pergi bergandengan dengan pasangannya. Mau ngobrol dengan siapa aku nanti saat makan. Apa mau dikata. Aku tolak ajakkan itu dengan alasan mau menemui seorang saudara. Padahal aku lapar.
Sudah empat hari aku di tinggal si primadona pulang kampung. Waktu yang cukup lama bagi sepasang kekasih yang selalu bertemu setiap hari. Sejak itu hari-hariku terasa monotone. Sepi, sunyi, sering melamun. Tertawa pun jarang dan tak lama, setelah itu melamun lagi.
Malam pertama setelah di tinggal pulang kampung. Tak tahu apa yang harus ku kerjakan. Datanglah seorang teman. Teman satu organisasi tempat aku belajar sesuatu yang tak dapat kutemukan di kelas saat perkuliahan. Seperti yang ku rasakan, dia juga sedang diselimuti kesepian. Memang hanya aku dan dia yang masih tersisa di kota istimewa ini. Teman yang lain sibuk dengan urusannya masing-masing. Ada yang KKN, ada yang pulang kampung.
Malam itu kami pergi ke kontrakan seorang teman dengan motor yang tak beda dengan kuda liar. Dingin, lengang, seperti sepasang homo yang sedang mencari tempat untuk bercumbu. Tak ada pilihan lain. Memang si pujaan hati sedang pulang kampung.
Sampai di kontrakan kami berdua diajak ngopi di daerah Seturan. Ngeban Resto, itu tempat yang kami tuju. Singkat cerita kami sampai disana. Tidak terlalu ramai karena bukan liburan akhir pekan. Hanya ada beberapa gerombol orang yang menempati kursi-kursi dan pasangan muda-mudi yang sedang menikmati malam dingin sambil menyeruputkopi pesanannya.
Setelah bingung mencari tempat duduk yang nyaman, akhirnya kami sepakat untuk duduk di pojokan kiri bawah. Disana hanya ada gerombolan kami dan satu gerombolan anak kuliah yang sepertinya angkatan baru. Tak lama kemudian pesenan kami datang. Chocolate original yang membuat gemuk. Tentunya minuman yang ku pesan sesuai dengan permintaan si primadona yang senang melihat tubuhku gemuk. Si primadona lagi. Entah kenapa ia selalu melekat di benakku. Terlebih di hati.
Perasaan iri timbul saat melihat pasangan kekasih yang sedang bermesraan. Ingin rasanya seperti mereka malam itu. Tapi tak mungkin aku bermesraan dengan tiga orang yang satu meja denganku ini. Kami sama-sama keturunan Adam.
Tak inngin lama-lama berteman dengan ke iri-an kami pun bermain kartu. Yah, kebiasaan lama yang sudah menjadi kultur di kota ini. Anak-anak muda nongkrong minum kopi sambil bermain kartu. 
Lama bermain kartu akhirnya bosan juga. Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul setengah dua pagi. Kasur empuk di kamar telah menanti. Tapi sekali lagi perasaan iri muncul ketika melihat pasangan kekasih yang sliweran di perjalanan pulang. Setiap perasaan tercela itu muncul aku selalu menggerutu dalam hati. Dosa iri menimbulkan dosa gerutu. Dua dosa ku rangkul malam itu. Tak bisa kusalahkan si primadona, hanya perasaan ini yang berlebihan.
Aku sampai di kost. Terus masuk melintasi koridor kost menuju kamar. Pintu demi pintu kamar ku lewati. Yah, si iri datang lagi. Di depan pintu-pintu itu terlihat sandal wanita. Sialan! kataku. Pasutri ilegal sedang nikmat-nikmatnya. Tapi biarlah, mungkin belum waktunya bagiku.
Esok harinya sama saja. Tak jauh beda. Hanya kali ini aku tidak pergi nongkrong keluar. Lebih baik begitu, daripada melihat pasangan yang bermesraan di jalanan. Ku pikir hari itu si iri tidak datang. Ternyata tidak pasutri-pasutri ilegal masih saja mengganggu perasaanku. Tak tanggung-tanggung, tiga hari tiga malam mereka bersama, tidur seranjang. bersambung hahahah……

Mr. Bagong

Umurnya kira-kira setengah abad. Rambutnya sedikit beruban, kulit hitam pekat karena terlalu sering kena sinar matahari, agak keriput namun badan masih berotot. Ditangan kanannya terdapat tato keris yang tidak sempurna. Boleh jadi asal bikin. Kelingking kaki kanan tak ada. Mungkin dampak dari ke bengalannya. Mahir berbahasa inggris dan perancis. Orang-orang di lingkungan sekitar biasa memanggilnya dengan sebutan pak Bagong.
Ya, siapa yang tak kenal pak Bagong. Orang yang di takuti di wilayah Mergansang. Orang yang dituakan oleh para gali. Seluruh gali di Yogyakarta pasti pernah mendengar namanya.
Mempunyai satu istri dengan kebiasaan berkoar-koar yang kulitnya tidak kalah hitam dengannya. Dari pernikahannya dengan istrinya melahirkan satu anak perempuan dan satu anak laki-laki yang nakal, barangkali lebih banyak gen ayahnya.
Sehari-hari hanya duduk memeluk kaki di depan rumah titipan bos nya. Terkadang keluar tak tahu kemana, mungkin nongkrong sambil merokok di sepanjang jalan Prawirotaman bersama konco-konconya. Dari cerita orang sekitar, beliau memang terkenal di daerah itu. Tak heran bila lancar berbahasa asing.
Tidak jelas profesinya apa. Bisa dikatakan pekerja musiman. Bila di Australia atau di Perancis sedang liburan musim panas maka ia akan mangkal dengan becaknya sekali lalu menjadi guide turis di tempat ia biasa nongkrong.
Sekali –sekali ia berjoget dengan goyangan khas nya di depan rumah di iringi dengan musik dangdut sembari menenggak minuman merah bergambar orang tua. Mungkin rindu dengan masa mudanya atau pusing memikirkan perjalanan hidupnya. Bahkan tak jarang siang hari ia pulang dari tempat biasa dalam keadaan teler, sampai-sampai di jemput dan di bimbing istrinya saat berjalan. Apalagi bila malam minggu tiba. Setelah magrib lepas, ia sudah gagah dengan celana dan jaket jeans. Tak lupa dengan topi lusuh yang selalu setia menutupi kepalannya.
Entah apa yang ada dipikirkannya dengan umur yang sudah lebih dari setengah abad. Se-gaek itu ia masih bisa berfoya-foya dengan keadaan keluarga yang bisa di bilang kurang secara finansial. Sebagai seorang muslim, hanya ibadah sholat jumat yang dilakukannya.
 Di lain sisi ia juga sosok yang penurut terhadap istri. Pekerjaan yang seharusnya menjadi tanggungjawab  seorang istri mulai dari mencuci, menjemur pakaian hingga memandikan anak kerap di embannya. Tak jarang istrinya memerintah untuk mengerjakan suatu hal, namun tetap dikerjakannya walaupun dijawab dengan nada malas dan muka masam. Haahh dasaar Ghali takut istri.